Minggu, 09 Juni 2013

Sun in Gemini, Moon in Virgo



Hampir semua keakraban bertolak dari sesuatu yang asing. Jadi, nggak perlu khawatir waktu ngerasa terasing. 

Musim dingin nggak akan abadi kalau kita mau ngegelinding bersama waktu,  bukannya ngunci diri di kebekuannya. 

Senyum yang banyak, jangan sampai kasih sayang kita kesumbat asumsi-asumsi negatif. 

Nggak ada orang yang nolak perhatian dan kebaikan ...

^_^


Jumat, 10 Mei 2013

Percakapan



Dual-natured Gemini loves Libra’s balance, and Libra is always entertained by the chatty witty Twins. There is something graceful and lovely about the interaction. People will talk about the magic between the two of them and notice their chemistry.*





“Jaket ini udah lama, ya?”
“Iya. Kok kamu tau?”
“Waktu kita pertama kali ketemu di konser Syarief kamu kan pake jaket ini.”
“Wahaha … iya, ya? Aku aja lupa. Kok kamu bisa inget, sih? Kita kan ketemunya sekilas doang …”
“Nggak tau. Aneh, da. Aku nggak gampang inget orang, tapi kalo ke kamu, setiap kita ketemu, aku inget semuanya. Detail.”
“Padahal kamu kan waktu itu belom ngeceng …”
“Ya belomlah.”
“Aku ke kamu juga ajaib. Waktu di Bali, secara intuitif aku tau kalo ‘this is the one’. Banyak tanda juga. Tapi aku sama sekali nggak yakin. Waktu itu kan aku belom suka, itungannya belom terlalu kenal juga. Lagian kalo dipikir secara logika kayaknya kita nggak bakal cocok … hahaha …”
“Hahaha … iya. Pas kamu di Bali aku ngalamin hari yang sial banget itu di Bandung. Kalau nggak ada hari itu, mungkin obrolan kita nggak bakal berlanjut …”
“Oh, iya. Abis itu aku juga jadi cerita semua yang aku alamin di Bali, termasuk yang nggak penting-penting. Nggak tau kenapa ada drive yang kuat untuk cerita ke kamu. Padahal kan ada orang-orang lain yang lebih deket sama aku …”
“Lucu, ya.”
“Iya.”

Selanjutnya, Ikan Paus dan Dea ngebahas macem-macem tanda yang kami temuin di sepanjang jalan. Apa yang sejak taun 2008 “menghubungkan” kami sebelom kami betul-betul saling kenal. Dan moment-moment kebetulan yang ajaib. Semuanya seperti film. Seperti novel. Lucu aja ketika itu semua ada di keidupan nyata. Idup kita sendiri, lagi.

Both Libra and Gemini have a light approach, which makes the relationship feels fresh. Their intimate life reflects their general high spirited personalities. The strength of the compatibility between a Gemini woman and Libra man comes from the fact that they respect each other’s freedom. These two are least demanding in nature. So, the relationship will be a lively and both will be happily dwelling in each other’s company. *



“Kalau kita jadi deket dari dulu, kira-kira kamu bakal fling nggak sama aku?”
“Mungkin aja. Tapi pasti aku bakal kabur kayak sama yang lain-lain, waktu itu kan kamu punya cewek.”
“Aku juga pasti nggak akan ngapa-ngapain, sih. Lagian, kalau dulu kita keburu jadi temen, mungkin sekarang kita juga nggak bisa lebih daripada itu.”
“Hehehe. Iya. Aku percaya apapun yang kita lewatin sebelumnya kesusun untuk nyiapin kita ketemu sekarang. Di waktu yang paling pas, dalam keadaan yang paling baik.”
“Aku juga percaya. Eh, waktu kita ketemu, kamu single nggak sih?”
“Enggak, tapi buat aku, hubungan-hubungan yang sebelumnya bikin aku lebih ngehargain apapun yang aku jalanin sama kamu sekarang.”
“Sama. Aku juga ngerasa gitu. Kalau kita udah bareng dari dulu, mungkin kita ngerasa kalo bahagia gini udah sewajarnya aja, ya.”

Have you ever watched two monarch butterflies chase each other around the garden? This is what it’s like when charming, flirtatious Gemini dances with refined, mannerly Libra. With wings on their heels and hearts, the Gemini woman and Libra man can glide in the skies so blue and full of rainbows that they could have never experienced without each other*

“Seumur-umur, baru sekarang aku nemuin paket kupu-kupu di perut dan rasa aman di satu orang. Oh, iya, aku tadi perutnya grubug-grubug. Sekarang udah mendingan.”
“Mungkin karena kupu-kupunya.”
“Hahaha …  iya, mungkin …”



*beberapa catetean primbon zodiak gembira yang udah nggak jelas dari mana aja sumbernya …

Jumat, 26 April 2013

Tidur Siang pada Jam Creative Writing

-Jakarta, Kamis, 25 April 2013-

Kelas Creative Writing


Pada suatu hari keseimbangan, bareng Plot Point Kreatif, Dea diundang dateng ke SD PSKD Mandiri, Menteng, Jakarta, untuk ngebagi materi creative writing. Hari itu, Dea dan temen-temen kecil dari kelas 4,5,6 SD seneng-seneng dan main-main aja. Pura-puranya mereka tidur siang di tengah jam Creative Writing dan ...bermimpi tentang ... 

ES KRIM!
Seperti apa sifat Si Es Krim? Kayak apa kira-kira tempat tinggalnya? Temen-temen kecil diajak berkenalan dengan setting dan penokohan sambil bermain. Si Es Krim sendiri keliling dari meja ke meja. Kadang sambil nyanyi-nyanyi, kadang sambil lompat-lompat. Dia bisa diajak ngobrol, tapi nggak boleh disentuh. Gambar temen-temen juga boleh beda-beda karena mimpi tiap orang pada dasarnya kan beda-beda juga ...



 



Selanjutnya, gambar, tokoh, dan setting yang udah ada, dikembangin jadi satu cerita pendek. Ternyata, cerita-cerita yang dibuat temen-temen di PSKD di luar dugaan kita semua. 

Ebner bikin cerita tentang Es Krim Vampir. Kalau Vampir yang kita tau makannya darah, Es Krim Vampir makannya gula.


Ada juga yang bikin cerita tentang anak perempuan yang genduuuuuttt sekali, suka makan, dan selalu mimpiin es krim. Pada suatu hari dia terjebak di mimpinya sendiri dan berubah jadi es krim. Akhirnya dia mati di dalem mimpi karena memakan dirinya sendiri (kok horor?)


Nina bikin cerita yang galau:


Michael unexpectedly nulis cerita dalam Bahasa Mandarin:



Karena Michael nggak mau nerjemahin, tulisan ini kemudian Dea kirim ke temen Dea, Himawan, untuk diterjemahanin. Terjemahannya bisa diliat di sini

Sementara Nata (sayang nggak kefoto) punya cerita menarik yang disampein secara interaktif. Dia jalan dari satu bangku ke bangku yang lain, minta temennya ikut mbacain kalimat percakapan di tulisannya. Ceritanya tentang bumi yang udah dikuasain es krim, dan manusia nggak punya tempat lagi. Akhirnya es krim ngusir manusia ke matahari. Dan ending dari ceritanya adalah: "And that is the end of the world".

Terus, ini ada lagi gambar yang bikin Dea ngakak:

This is a normal ice cream, this is a majin ice cream, this is an afro ice ream, afro circus
Ada juga salah seorang temen kecil yang nutup cerita es krimnya dengan sebuah quote manis, "although she was lonely, she never feels a loneliness". Aaaah ... kepikiran aja, sih, bikin kalimat kayak gitu, Dik ;) 

Hal manis lainnya, di kelas ada salah seorang anak ADHD, namanya Gregi. Temen-temennya caring banget sama dia. Waktu dia maju untuk cerita, salah satu temennya langsung punya inisiatif untuk ngebantu Gregi ngebaca dan berkomunikasi.




Setelah bermain-main di dunia mimpi, temen-temen "bangun kembali". Mimpi selesai, dan jam Creative Writing abis.

Sepanjang sejarah ngasih materi Creative Writing, ini kelas paling out of the box yang pernah Dea pegang. Bukan cuma mereka yang bersenang-senang, Dea juga. Dan bukan cuma mereka yang belajar sesuatu, Dea juga. Bahkan mungkin justru Dea yang belajar lebih banyak dari mereka ^^

Posting ini Dea tutup dengan sebuah lagu yang lucu yang representatif sama seluruh kegiatan hari itu:




Adik-adik kecil, tumbuhlah tanpa berhenti bermimpi. Dea percaya, mimpi itu cara kita nyayangin dunia, keidupan, dan diri sendiri  ^_^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah ...

Kamis, 28 Maret 2013

Teko Neko-neko



Ikan Paus:  
Sebetulnya kita nggak perlu beli minuman beroksigen. Tinggal tuang air dari teko rada jauh dari gelas, nanti dia bakal ngambil oksigen lebih banyak. Liat. Minumannya jadi ada sodanya ...

Dea:  
Ikan Paus, liat ke teko. Kamu jadi kayak Plastic Man di situ ...


Wednesday, Wet-nesday







Captured on a very wet-wet-wet-nesday
March, 27, 2013
at Airbus 31
Bandung 

Senin, 25 Maret 2013

Be a Clown, Be a Clown ...

Pada suatu hari Minggu, abis pulang dari kawinan temen, Dea lewat persis di depan tempat Ikan Paus ngelatih orkestra. Jadi Dea mampir. Latihannya udah kelar. Tapi Ikan Paus masih ngelatih Brigit, pemain biolanya, untuk main solo lagu yang susah banget buat konser bulan September.

Setelah ngelatihnya kelar, Brigit pulang duluan. Ikan Paus masih harus beres-beres karena sebagian alat orkes yang gede-gede dibawa pulang sama dia. Giliran beres-beresnya  kelar, ujan turun lumayan deres.

“Kamu bawa payung? Aku parkir di Borma soalnya,” kata Ikan Paus.
“Enggak. Kan aku dari kawinan, ranselnya lebih kecil.”

Akhirnya kami mutusin untuk nunggu ujannya brenti. Soalnya repot kalo basah-basahan, alat-alat musiknya juga bisa rusak. Ternyata ujannya nggak brenti-brenti, malah tambah deras. Ikan Paus dan Dea udah bosen nungguin sambil duduk-duduk di tangga.

“Nggak ada yang bisa kita lakuin sambil nunggu, ya?” Ikan Paus nanya.
Dea angkat bahu.
“Hmmm… ayo kita ngabsurd,” kata Ikan Paus sambil ngeluarin cello dari casingnya.





Jumat, 22 Maret 2013

Pedang Teritori


In Memoriam Oom Ricky Johannes
25 September 1967 - 22 Maret 2013


Satu hari sebelum kita semua keilangan Oom Ricky, tiba-tiba bandul kalung Dea jatoh entah di mana. Udah bertaun-taun kalung itu Dea pake, nyaris nggak pernah Dea lepas, dan selalu deket sama jantung. Banyak yang nyangka itu kalung salib, padahal sebenernya bentuknya pedang bersayap. Kalung itu ilang tiba-tiba. Mungkin pertanda. Sesuatu yang nganter Oom Ricky pergi.

Dea kenal Oom Ricky hampir separoh umur Dea, tapi baru sekitar 2 taun terakhir ini Dea agak akrab sama dia. Sebelumnya, Dea seperti ngehunus pedang. Bukan untuk nusuk, sekedar untuk ngasih bates teritori yang jelas untuk ngejagain tante Dea, adik bungsu mama.